Needs Zaman Now !
Berapa
kali saya pernah mengupload sebuah tulisan serta ditambah gambar juga
disisipkan kutipan Yaaa... kekinian maksudnya, seperti biasa saya upload pada
tengah malam dan di akhir minggu-weekend karena menurut team F8 facebook adalah
waktu dan hari yang efektif untuk upload conten di facebook.
And the
end, saya berhasil upload, tiba saatnya saya tidur malam, tapi apa yang terjadi
waktu saya mencoba menutup mata saya, kegelisahan menembus keheningan malam
^_^, pikirian rasanya ini masih didepan
layar Laptop saya, rasa penasaran untuk melihat komentar dan berapa notif like
atau icon lainya rasanya seperti mata air digurun.
Pagi
harinya rasa penasaran itu memuncak, cepat-cepat buka HP , ooooo nothing happen
or nothing moving on.. dalam pikirian saya mungkin terlalu pagi untuk seorang
mengkomentari dan tumbs like, disiang
menuju petang ada berapa orang yang menekan bottom likenya, dan terlintas
sebuah ide untuk mentag atau memention upaya ini, meramekan postingan ini yang
mulai larut malam hari.
“Pengakuan
sosial di zaman sekarang ini adalah kebutuhan yang sejajar dengan kebutuhan
perut”
Jika
dipikir-pikir kenapa saya melakukan itu yaa? Emmm.. Pengakuan sosial di zaman sekarang
ini bisa dilihat sebagai kebutuhan yang sejajar dengan kebutuhan perut. “Kids Zaman Now” lebih memilih paket data
dibandingkan uang sangu makan siang. Berjuang untuk memperoleh Bottom, “Like” “ Love” “Tertawa” “follower” apalagi
“Share” (dibagikan) menjadi kebutuhan generasi sekarang, bahkan tidak
sedikit menjadi standar pengakuaan sosial dan rasanya senang bukan kepalang
bila ada puluhan bahkan ribuan orang menekan Icon itu.
Dari
segi ekonomi, hal diatas menciptakan peluang baru karena prilaku baru ini belum
pernah terjadi sebelumnya, bagi generasi millennials tempat makan bukan
hanya menikmati makanan yang dibeli, tapi memupload tempat itu yang instgram-view
ditambah memfoto makanan itu sendiri, mencari pencahayan yang mewah dan sudut
yang memukau mata untuk dipandang, menjadi prilaku generasi millennial. Itu sebabnya
sekarang tempat hangout atau tempat belanja saja, membangun tempat untuk berselfie
dan berfoto-instgram-view, menjadi
mangnet orang untuk datang.
“Legitimasi Sosial lebih kuat dari pada penegakan Legitimasi
Hukum
kita harus pahami itu
sekarang, tapi sejarah akan membuktikan”
Wayan Sudhirta (team pengacara BTP)
Kalimat
ini membuat saya terdiam sejenak bagaimana tidak, tekanan sosial dapat menyalip
posisi hukum didepan dan menjadi terkemudian, tak terbayang apa jadinya negara
hukum dapat diintervesi dengan tekanan sosial, dengan kata lain Kebenaran menjadi
kalah dengan perkataan atau pendapat orang banyak menjadi benar. Tidak heran
sekarang banyak orang tidak tahan dengan tekanan sosial dan lebih mendengar
perkataan orang banyak dari pada hukum.
Begitulah
sekarang yang terjadi pada generasi sekarang, manusia mencari pengakuan sosial
dengan cara berbeda serta menciptakan cara baru untuk mendapatkan rasa nyaman, baik anak muda sampai ibu
rumah tangga bahkan pegiat rohani ada juga didalamnya. Jika tidak membuat
status Caption di wall Facebook atau
mengupload foto di hari ini di Instgram, rasa-rasanya seperti sayur tanpa garam
atau Piala-Dunia tanpa Itali itu hambar. Ditambah bagaimana sosial socitey memperlihatkan versi yang
berbeda dulu kita memiliki nilai-nilai budaya ramah, santun dan
bergotong-royong, yang selalu mengedepankan musywarah, tapi kali ini memiliki
wajah yang berbeda cenderung nilai-nilai jati diri bangsa mulai runtuh.
Life
so beautiful mungkin kalimat ini membantu kita untuk melihat persitiwa diatas
ini menjadi berbeda, karena memang keindahan kehidupan ini menjadi sempit jika hanya
tulis (caption) di wall Facebook kamu dan kebahagian turun kadar jika hanya
sebatas foto capture memalui kamera kamu, cobalah lihat sekeliling kamu banyak
hal yang kamu bisa lakukan, cepat temukan hal-hal yang baru diluar sana maka
petualangan hidup kamu menjadi lebih berwarna.
Komentar
Posting Komentar