Pendekatan psikologis, mengurai aksi demo buruh pembayaran THR
Fenomena Aksi Demo, Pada Tahun 2020, terdapat aksi Demo Buruh yang mendesak agar pemerintah tidak menyetujui perusahaan membayar THR dan gaji sebesar 50%, tetapi agar membayar THR dan Gajinya secara penuh di tengah pandemic covid -19. berikut ini adalah mengurai fenomenan ini dengan pendekatan psikologi, saya harap kamu bisa menikmatinya.
Menurut Maslow's, susunan variasi kebutuhan manusia dipandang tersusun dalam bentuk Hirarki atau berjenjang. Setiap jenjang kebutuhan dapat terpenuhi ketika jenjang sebelumnya relatif terpuaskan ini adalah gambaran dari Maslow Pyramid. Kebutuhan yang paling dasar di bawah adalah kebutuhan fisiologis yang sifat new statik atau usaha untuk menjaga keseimbangan unsur-unsur fisik. seperti makan, minum, hiburan dan sex, kebutuhan ini sangat kuat dalam keadaan absolute, jika seorang mengalami kelaparan, maka kebutuhan lain ditinggalkan maka seseorang akan berusaha dan mengeluarkan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar ini. selanjutnya lapisan kebutuhan keamanan yang rasa aman , ada jaminan terlindung baik hukum dan sistem masyarakat menjadi lapisan berikutnya, jika dihubungkan dengan lapisan bawah Psikologis (Physiology) terhadap Keamanan (Safety), maka keamanan adalah kebutuhan mempertahankan hidup jangka panjang dan Psikologis jangka pendek. Analisis fenomena demo buruh yang mendesak pemerintah untuk tidak menyetujui pengusaha tidak memberikan THR hanya 50 %. Ini adalah respon keras pendemo yang menginkan 100% THR diterima, THR identik dengan Hari raya lebaran secara Sosial -Agama, ini adalah momen yang dimana setelah berpuasa dan ditutupi perayaan kemenangan yang dikenal Idul-fitri atau hari Lebaran, yang biasanya kebutuhan Psikologi menjadi meningkat tajam, disebabkan adanya silaturahmi dengan menyuguhkan makan dan minum hingga baju baru. tak helak kebutuhan naik tersebut menjadi tradisi masyarakat indonesia yangs selalu dilakukan. hal - hal menjadi latar belakang aksi demo buruh tersebut.
THR menjadi Kebutuhan psikologi yang sangat diperlukan untuk keadaan Hari Raya Lebaran. Tidak bisa ditutupi mata ada sebagian perusahaan terimbas akan pandemic covid-19, yang mengakibatkan pendapatan menurun dan kemampuan untuk membayar THR 100% mengalami kesulitan bayar. Hal ini ada realita yang harus dilihat Buruh, jika dipaksakan dampak bagi perusahaan jauh lebih buruk, bisa saja Perusahan tersebut habis lebaran gulung tikar.
THR ada hak bagi pekerja untuk memenuhi kebutuhan hari raya lebaran hal itu juga penting, 50% THR menjadi pilihan jika kelangsungan Perusahaan tetap berjalan, mungkin bagi pekerja buruh dapat melihat ini dengan perspektif yang lebih besar yang jatuh adalah kepentingan bersama -sama, THR 50% bisa digunakan tidak berlebihan, membuat hal -hal yang sederhana menjadi kunci memanfaatkan THR 50%. yang penting amal dan renungan selama menjalankan Ibadah di bulan suci Ramadhan dapat diterima.
Komentar
Posting Komentar